Sebanyak 70% Susu Pertumbuhan untuk Balita Ternyata Tidak Sehat

  • 30 Januari 2021
  • 12,743 views
Sebanyak 70% Susu Pertumbuhan untuk Balita Ternyata Tidak Sehat Cover Laporan Komposisi Kandungan Gizi dan Praktik Pemberian Label pada Susu Pertumbuhan (GUMs) - sumber: Archnutrition.org

menyusui.info– Sebanyak tiga perempat atau sekitar 70% susu pertumbuhan untuk Balita yang beredar di Indonesia ternyata memiliki kandungan gula tinggi dan tidak sesuai untuk menjadi asupan gizi bayi dan anak.

Hal itu terungkap melalui sebuah riset terhadap praktik pelabelan pada 100 produk susu pertumbuhan yang beredar di Indonesia.

Studi tersebut menemukan bahwa sebagian besar produk susu pertumbuhan mengandung 1–10 jenis gula atau pemanis tambahan. Jika dirata-rata, setiap jenis produk menambahkan setidaknya 5 jenis gula atau pemanis buatan.

Jenis-jenis gula /pemanis tambahan yang tertera pada komposisi susu pertumbuhan (GUMs) yang dinyatakan dalam  bentuk persentase total sampel dengan urutan menurun (n=100)
Jenis-jenis gula /pemanis tambahan yang tertera pada komposisi susu pertumbuhan (GUMs) yang dinyatakan dalam bentuk persentase total sampel dengan urutan menurun (n=100)

Susu pertumbuhan yang dimaksud dalam riset tersebut adalah susu pertumbuhan yang ditujukan untuk anak usia 1-3 tahun, baik dalam bentuk cairan maupun bubuk untuk dilarutkan, yang berbahan dasar susu sapi baik yang sudah dimodifikasi maupun tidak.

Sedangkan World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk membatasi asupan gula tambahan atau gula bebas karena dapat mengganggu kesehatan.

Riset tersebut digelar Hellen Keller International melalui projek ARCH Nutrition, yang hasilnya baru saja dirilis pada hari Selasa, 26 Januari 2021 pukul 10.41 malam WIB, melalui akun twitter @ARCH_Nutrition.

Cuitan tersebut kemudian dicuitkan kembali dalam Bahasa Indonesia oleh dr. Dian N Hadihardjono, MSc. dari Helen Keller Indonesia melalui akun twitternya @dn_basuki (Rabu, 27/01/2021).

Bertajuk “Nutritional Composition and Labelling Practices of Growing-up Milks (GUMs), launched in Indonesia between January 2007 and May 2019”.

Yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “Komposisi Kandungan Gizi dan Praktik Pemberian Label pada Susu Pertumbuhan (GUMs) yang Berlaku di Indonesia antara Januari 2017 dan Mei 2019”.

Studi ini berkonsentrasi untuk menentukan kesesuaian kandungan gula yang tertera dan profil zat gizi pada susu pertumbuhan yang beredar di berbagai kota di Indonesia antara Januari 2017 dan Mei 2019, seperti yang ditangkap oleh Innova Market Insight.

Menggunakan Model Nutrient Profiling oleh Food Standards Agency Inggris, dari algoritma Front of Pack (FoP) untuk menilai kandungan gula yang tertera pada label produk-produk tersebut, ditemukan bahwa hampir tiga perempat atau sekitar 70% susu pertumbuhan yang beredar memiliki kandungan gula tinggi.

Hasil Algoritma Sisi Muka Kemasan Produk (FoP) oleh FSA Inggris terhadap gula total yang bisa dinilai (n=93) - Sumber Archnutrition.org
Hasil Algoritma Sisi Muka Kemasan Produk (FoP) oleh FSA Inggris terhadap gula total yang bisa dinilai (n=93) – Sumber Archnutrition.org

“Laporan terbaru kami mengungkap kadar gula yang mengkhawatirkan dalam susu pertumbuhan …” cuit dr. Dian.

Riset tersebut akhirnya menyimpulkan susu pertumbuhan di Indonesia tidak sesuai untuk menjadi asupan gizi balita, bahkan sepatutnya diberi label warna merah pada kotak kemasannya sebagai peringatan akan risiko kesehatan sebagai dampak dari tingginya kandungan gula.

Tetapi, alih-alih memberi label dengan warna merah, riset tersebut justru mengungkap fakta adanya klaim manfaat kesehatan dan kebaikan untuk tumbuh maupun kembang anak.

Dalam ringkasan eksklusif riset yang dipublikasikan di archnutrition.org dinyatakan bahwa hampir semua (97%) susu pertumbuhan membuat beberapa jenis klaim kandungan zat gizi.

Padahal jika mengacu pada codex, klaim tersebut justru tidak diizinkan pada makanan untuk bayi dan anak-anak.

Misalnya, dipasarkan dengan klaim “rendah sukrosa” sementara hasil analisa menggunakan algoritma FoP menunjukkan termasuk kategori kandungan total gula yang tinggi.

“… SEPERTIGA dari susu pertumbuhan yang membuat klaim kandungan zat gizi, ternyata TIDAK SEHAT,” simpul dr. Dian.

Ironisnya, produk-produk susu tersebut dijual cukup mahal, bisa mencapai 9x lebih mahal daripada susu sapi segar menurut riset tersebut.

Perbandingan harga - sumber: archnutrition.org
Perbandingan harga – sumber: archnutrition.org

Susu sapi segar – menurut rekomendasi WHO – merupakan minuman padat gizi yang sesuai untuk anak usia di atas 1 tahun yang tidak mendapatkan ASI.

Kesimpulan:

Hasil riset ini membuka mata kita ternyata tidak semua produk susu di pasaran yang memberikan klaim kandungan gizi, benar memberikan manfaat kesehatan.

Selain itu, kita juga sebaiknya mulai cermat dan kritis dalam mengamati label pada kemasan makanan, sehingga kita mengetahui apa yang kita minum, dan risiko kesehatan apa yang mungkin dapat timbul.

Sayangnya, hanya sepertiga atau 29% saja produk susu pertumbuhan yang mencantumkan informasi yang cukup pada label produknya untuk dapat ditentukan profil gizinya masuk dalam kategori sehat atau tidak.

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita sama-sama kerjakan, karena Indonesia sekarang dihadapkan pada 3 masalah gizi pada anak dibawah umur 5 tahun: kekurangan gizi kronis yang berujung stunting, sementara di sisi lain banyak anak mengalami kelebihan berat badan dan obesitas, dan di antara keduanya masih ada lagi masalah gizi ketiga yaitu kekurangan zat gizi mikro.

Disinyalir ketiga masalah tersebut timbul karena peningkatan asupan makanan padat energi, miskin zat gizi mikro, dan pemberian ASI yang mulai tergantikan.

Sumber:

Ditulis oleh: wasugi
Ketua Gema Indonesia Menyusui dan salah satu founder dan relawan GIM, aktif sebagai konselor menyusui sejak tahun 2006. Penulis berdomisili di Yogyakarta.