Anemia Defisiensi Besi (ADB) pada Bayi dan Anak

  • 28 Januari 2021
  • 345 views
Anemia Defisiensi Besi (ADB) pada Bayi dan Anak Anemia Defisiensi Besi (ADB) pada Bayi dan Anak

Apakah itu Anemia defisiensi Besi atau ADB?

Anemia defisiensi besi atau disingkat menjadi ADB adalah satu kondisi defisiensi nutrien yang sering terjadi pada anak terutama anak di negara berkembang seperti Indonesia.

Penyakit ini disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh bayi atau anak, akibat dari kondisi percepatan tumbuh masa kanak-kanak sedangkan asupan besi dari makanannya tidak mencukupi.

Apakah penyebab Anemia defisiensi besi (ADB)?

  • Asupan zat besi yang tidak adekuat seperti pertumbuhan cepat bayi dan anak, asupan formula berlebih, pengenalan makanan padat yang terlambat, kebiasaan makan yang buruk, pemberian ASI ekslusif melebihi usia 6 bulan.
  • Simpanan zat besi saat lahir yang tidak adekuat seperti pada bayi dengan berat lahir rendah, bayi prematur, pada bayi kembar, bayi yang lahir dari ibu hamil yang mengalami ADB (Hb < 9 g/dl).
  • Selain itu bisa disebabkan oleh masalah absorbsi (penyerapan) di saluran pencernaan yang perlu diatasi secara medis.

Lalu bagaimana kita mengetahui bahwa anak atau bayi kita mengalami ADB?

Biasanya bayi atau anak dengan ADB akan mengalami berat badan yang kurang, secara fisik terlihat pucat dan perkembangan otot yang lemah, selain itu juga bayi atau anak lebih mudah terserang infeksi.

Ketika melihat kondisi tersebut, sebaiknya kita segera menanganinya. Tentu penangann setiap masalah tergantung dari penyebabnya, maka skrining yang komprehensif untuk melihat adanya ADB mutlak dilakukan.

Jika terbukti ADB maka hal pertama yang dilakukan adalah pemberian suplementasi zat besi, tentu semuanya harus atas arahan dokter.

Selain itu, kita juga perlu berkonsultasi dengan dokter atau Konselor untuk mendapat konseling pemberian makan bayi dan anak, agar dapat memperbaiki asupan nutrisi dan kebiasaan makan bayi dan anak.

Bagaimana mencegah terjadinya ADB?

  • Pemberian asupan nutrisi yang optimal dengan keberagaman pangan dapat mencegah terjadinya ADB serta pemberian suplementasi zat besi jika diperlukan (tentu atas arahan dari dokter).
  • Keberagamana bahan makanan yang diberikan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan zat besi bagi bayi dan anak. Adapun bahan makanan kaya zat besi meliputi makanan hewani, seperti hati, daging, dan telur. Beberapa bahan makanan dari tumbuh-tumbuhan seperti buncis, kacang-kacangan dan bayam merupakan sumber zat besi juga dengan jumlah tertentu.
  • Untuk membantu penyerapan zat besi diperlukan bahan makanan kaya vitamin C seperti buah-buahan dan sayur-sayuran yang kaya vitamin C.
  • Hindari makanan atau minuman yang mengurangi penyerapan zat besi seperti kopi dan teh.
  • Pemberian ASI eksklusif sesuai waktu dapat mengurangi risiko mengalami kekurangan zat besi.
  • Penimbangan rutin tiap bulan dapat menjadi deteksi dini jika ditemukan masalah gizi pada bayi dan anak.
  • Ikuti konseling pemberian makan bayi dan anak agar mendapatkan informasi yang membantu ibu menyiapkan makanan yang memenuhi seluruh kebutuhan gizi bayi dan anak.

Yang terpenting membangun kebiasaan makan yang baik yang akan menjadi kebiasaan sampai dewasa sehingga kita dapat memutus rantai kurang gizi dan kejadian anemia ini pada seluruh tahapan usia.

Sumber:

  • Windiastuti, E. (2013). Anemia defisiensi besi pada bayi dan anak. Retrieved from https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/anemia-defisiensi-besi-pada-bayi-dan-anak.
  • Hockenberry, M. & Wilson, D. (2015). Wong’s nursing care of infants and children. Philadhelpia: Elsivier
  • Dirgizi Kemenkes RI (2017). Panduan fasilitator modul pelatihan konseling pemberian makan bayi dan anak (PMBA). Jakarta: Kemenkes RI
Ditulis oleh: Fajar Tri Waluyanti
Seorang perawat spesialis anak, Dosen Keperawatan FIK UI, co-founder Gema Indonesia Menyusui, Konsultan Menyusui. Penulis tinggal di Depok.

Sebelumnya