Menyusui dan COVID-19: Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan

  • 8 June 2020
  • 308 views
Menyusui dan COVID-19: Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan Menyusui dan COVID-19: Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan

Dokumen FAQ ini melengkapi panduan sementara WHO: Manajemen klinis Infeksi Pernafasan Akut Berat (Severe Acute Respiratory Infection/SARI) pada suspek COVID-19. (13 Maret 2020 – www.who.int/publications-detail/clinical-management-of-severe-acuterespiratory-infection-when-novel-coronavirus-(ncov)-infection-is-suspected).

Dokumen ini juga memberikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang muncul mengenai rekomendasi tersebut.

Panduan sementara dan FAQ ini mencakup hal-hal berikut.

  • Bukti yang ada mengenai risiko penularan COVID-19 melalui air susu ibu (ASI);
  • Efek perlindungan dari menyusui dan kontak kulit-ke-kulit (skin to skin contact);
  • Bahaya penggunaan susu formula bayi yang tidak tepat.

FAQ ini juga mengacu pada rekomendasi WHO lainnya mengenai Pemberian Makanan Bayi dan Anak, serta Panduan Operasional Kelompok Kerja Interagency tentang Pemberian Makanan Bayi dan Anak dalam Keadaan Darurat.

Alur proses pengambilan keputusan menunjukkan bagaimana rekomendasi ini dapat diterapkan oleh petugas kesehatan di layanan bersalin dan di masyarakat, sebagai bagian dari pekerjaan sehari-hari mereka dengan ibu dan keluarga.

1. Dapatkah COVID-19 ditularkan melalui menyusui?

Virus COVID-19, hingga saat ini, belum terdeteksi pada ASI dari ibu yang positif atau diduga terinfeksi COVID-19.

Karena itu, nampaknya COVID-19 tidak dapat ditularkan melalui menyusui atau dengan memberi ASI perah dari seorang ibu yang positif maupun diduga terinfeksi COVID-19.

Penelitian terus dilakukan untuk menguji ASI dari ibu yang positif atau diduga terinfeksi COVID-19.

2. Pada komunitas di mana terdapat banyak kasus COVID-19, haruskah ibu menyusui?

Ya. Pada semua tataran sosial ekonomi, menyusui dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan kesehatan jangka panjang serta manfaat tumbuh kembang neonatus dan bayi. Menyusui juga meningkatkan kesehatan ibu.

Penularan COVID-19 melalui ASI dan menyusui belum terbukti. Tidak ada alasan untuk menghindari atau berhenti menyusui.

3. Pada ibu yang positif atau diduga terinfeksi COVID-19, setelah persalinan, apakah bayinya tetap diberikan kontak kulit-ke-kulit (skin to skin contact) dan disusui?

Ya. Kontak kulit-ke-kulit yang dilakukan segera setelah lahir dan setelahnya, termasuk perawatan metode kanguru, dapat meningkatkan pengaturan suhu tubuh neonatus dan fungsi fisiologis lainnya, serta dapat menurunkan angka kematian bayi baru lahir.

Menempatkan bayi baru lahir dekat dengan ibunya juga memberikan kesempatan untuk pelaksanaan inisiasi menyusu dini yang juga dapat mengurangi kematian neonatus.

Manfaat dari kontak kulit-ke-kulit dan menyusui jauh lebih banyak dibandingkan dengan potensi risiko penularan dan penyakit yang terkait dengan COVID-19.

4. Jika seorang ibu positif atau diduga terinfeksi COVID-19, haruskah dia melanjutkan menyusui?

Ya. Penularan virus COVID-19 melalui ASI dan menyusui belum terbukti. Saat menyusui, seorang ibu harus tetap menerapkan langkah-langkah kebersihan yang tepat, termasuk mengenakan masker medis jika tersedia, untuk mengurangi kemungkinan menularkan droplet yang mengandung virus COVID-19 kepada bayinya.

Dapat disampaikan kepada Ibu dan keluarganya bahwa di antara sedikit kasus infeksi COVID-19 pada anak-anak, sebagian besar hanya mengalami penyakit ringan atau tanpa gejala.

Sebaliknya, ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa menyusui menurunkan kematian neonatus, bayi dan anak, termasuk di daerah dengan sumber daya yang berlimpah. Di semua daerah dan tingkatan ekonomi, menyusui juga meningkatkan kesehatan dan pembangunan jangka panjang.

5. Apa rekomendasi kebersihan pribadi bagi seorang ibu menyusui yang positif atau diduga terinfeksi COVID-19?

Jika seorang ibu positif atau diduga terinfeksi COVID-19, seharusnya ia:

  • Mencuci tangan sesering mungkin dengan sabun dan air atau menggunakan hand sanitizer/rub berbasis alkohol, terutama sebelum menyentuh bayinya.
  • Menggunakan masker medis saat menyusui. Penting sekali untuk:
    • Mengganti masker segera setelah masker tersebut lembab
    • Segera membuang maskernya setelah digunakan
    • Tidak menggunakan lagi masker yang sudah dipakai
    • Tidak menyentuh bagian depan masker, tetapi melepaskannya dari belakang
  • Bersin atau batuk dengan menggunakan tisu, dan segera membuangnya serta mencuci tangan dengan hand sanitizer berbasis alkohol atau dengan sabun dan air bersih.
  • –Secara teratur membersihkan dan memberikan disinfektan pada area permukaan di sekitarnya.

6. Jika seorang ibu yang positif atau diduga terinfeksi COVID-19 tidak memiliki masker medis, haruskah dia tetap menyusui?

Ya. Tidak diragukan lagi, menyusui dapat mengurangi kematian neonatus dan bayi, serta memberikan banyak manfaat seumur hidup terhadap perkembangan kesehatan dan otak bayi/anak. Ibu dengan gejala COVID-19 disarankan untuk memakai masker medis, tetapi jika ini tidak memungkinkan, menyusui harus dilanjutkan.

Langkah-langkah pencegahan infeksi lainnya, seperti mencuci tangan, membersihkan permukaan, menggunakan tisu saat bersin atau batuk juga penting untuk dilakukan.

Masker non-medis (seperti masker buatan sendiri atau kain) belum dievaluasi. Saat ini, belum memungkinkan untuk membuat rekomendasi tentang menyetujui atau menentang penggunaan masker non-medis.

7. Apakah ibu yang positif atau diduga terinfeksi COVID-19 perlu mencuci payudaranya sebelumnya dia menyusui secara langsung atau sebelum memerah ASI-nya?

Jika seorang ibu yang positif atau diduga terinfeksi COVID-19 baru saja batuk di atas payudara atau dadanya yang terbuka, maka dia perlu mencuci payudaranya dengan sabun dan air hangat
setidaknya selama 20 detik sebelum menyusui.

Tidak perlu mencuci payudara setiap kali akan menyusui atau memerah ASI.

8. Jika seorang ibu yang positif atau diduga terinfeksi COVID-19 tidak dapat menyusui, apa cara terbaik untuk memberi asupan bagi bayi yang baru lahir/bayi?

Alternatif terbaik untuk menyusui bayi baru lahir
atau bayi usia muda adalah:

ASI perah

  • Memerah ASI terutama dilakukan atau diajarkan dengan menggunakan tangan. Memerah dengan pompa mekanik hanya
    dilakukan jika perlu. Memerah ASI dengan tangan dan menggunakan pompa bisa samasama efektif.
  • Pilihan cara memerah akan bergantung pada pilihan ibu, ketersediaan peralatan, kondisi kebersihan dan biaya.
  • Memerah ASI juga penting untuk mempertahankan produksi ASI sehingga ibu dapat menyusui langsung setelah pulih.
  • Ibu menyusui, dan siapa pun yang membantunya, harus mencuci tangan mereka sebelum memerah ASI atau menyentuh bagian pompa atau botol, serta memastikan pembersihan pompa yang tepat setelah digunakan. (Lihat pertanyaan 10 di bawah ini).
  • ASI yang diperah diberikan kepada anak sebaiknya menggunakan cangkir bersih dan/atau sendok (lebih mudah dibersihkan), oleh orang yang tidak memiliki tanda atau gejala
    sakit dan dengan siapa bayi merasa nyaman. Ibu/pengasuh harus mencuci tangan sebelum menyusui bayi baru lahir atau bayi.

Donor ASI

  • Jika ibu tidak mungkin memerah ASI dan ASI tersedia di bank ASI, ASI donor dapat diberikan kepada bayi sementara ibunya
    sedang dalam masa pemulihan.

Jika ASI perah atau ASI donor tidak layak atau tidak tersedia, maka pertimbangkan:

  • Ibu susu (lihat pertanyaan 11 di bawah ini)
  • Susu formula bayi dengan memastikan kelayakan, persiapan yang benar, aman dan berkelanjutan.

9. Apakah aman untuk memberikan ASI perah dari ibu yang positif atau diduga terinfeksi COVID-19?

Ya. Virus COVID-19, hingga saat ini, belum ditemukan di dalam ASI dari ibu yang positif atau diduga terinfeksi COVID-19. Virus ini tidak dapat ditularkan dengan memberikan ASI perah dari seorang ibu yang positif atau diduga terinfeksi COVID-19.

10. Jika seorang ibu yang positif atau diduga terinfeksi COVID-19 memerah ASI untuk bayinya, apakah ada perlakuan ekstra yang diperlukan untuk alat pompa ASI, wadah penyimpanan ASI perah atau peralatan minum bayi?

Bahkan di saat tidak ada COVID-19 pun, pompa ASI, wadah penyimpanan ASI perah dan peralatan minum bayi perlu dibersihkan dengan tepat setiap kali selesai digunakan.

  • Setiap selesai digunakan, cuci pompa/wadah dengan sabun cair, seperti cairan pencuci piring, dan air hangat. Setelah itu bilas dengan air panas selama 10-15 detik.
  • Beberapa bagian pompa payudara dapat diletakkan di rak paling atas alat pencuci piring (jika tersedia). Periksa petunjuk manualnya sebelum melakukan ini.

11. Jika seorang ibu yang positif atau diduga terinfeksi COVID-19 tidak dapat menyusui atau memerah ASI, apakah ibu susu dapat direkomendasikan?

Ibu susu dapat menjadi pilihan, tergantung pada penerimaan dari ibu/keluarga bayi, pedoman nasional, budaya, ketersediaan ibu susu dan layanan untuk mendukung ibu susu tersebut.

  • Pada kondisi di mana terdapat prevalensi HIV, calon ibu susu harus menjalani konseling HIV dan uji cepat sesuai dengan pedoman nasional (jika ada). Apabila tidak ada uji cepat, jika memungkinkan, dapat melakukan penilaian risiko HIV. Jika penilaian risiko HIV/konseling juga tidak dimungkinkan, fasilitasi dan dukung ibu susu. Berikan konseling untuk menghindari infeksi HIV selama menyusui.
  • Prioritaskan ibu susu untuk bayi usia termuda.

12. Jika seorang ibu yang positif atau diduga terinfeksi COVID-19 tidak dapat menyusui karena dia terlalu sakit atau karena menderita penyakit lainnya, kapan dia bisa mulai menyusui lagi?

Seorang ibu dapat mulai menyusui ketika dia merasa cukup baik untuk melakukannya. Tidak ada interval waktu yang pasti dalam menunggu kapan bisa menyusui sejak dikonfirmasi/diduga terinfeksi COVID-19.

Tidak ada bukti bahwa menyusui akan mengubah perjalanan klinis COVID-19 pada seorang ibu.

Ibu harus didukung dalam menjaga kesehatannya secara umum dan gizinya untuk memastikan pemulihan secara total. Ibu juga seharusnya didukung untuk memulai menyusui atau relaktasi.

Referensi

www.who.int/news-room/q-a-detail/ q-aon-
covid-19-and-breastfeeding

Disclaimer

Respons terhadap pertanyaan dalam dokumen ini diambil dari publikasi WHO dan panduan operasional Kelompok Kerja Interagency mengenai asupan bayi dan pemberian makan di masa darurat.

Pedoman sementara WHO disusun oleh jaringan global WHO yang terdiri dari para klinisi yang telah merawat pasien dengan SARS, MERS, atau influenza berat atau COVID-19.

Untuk pertanyan, silakan kirim email ke outbreak@who.int dengan subyek “COVID-19 clinical question”.

Penerjemah

Dokumen ini diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim dari Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak-GKIA adalah koalisi organisasi masyarakat sipil untuk kesehatan ibu dan anak Indonesia. www.gkia.org

Konten Terkait